Solid Gold

PT. Solid Gold Berjangka – Lebih dari 13.000 petani rumput laut Indonesia, yang hidupnya menjadi sulit akibat tumpahan ladang minyak Montara 2009 lalu, mengajukan gugatan perwakilan atau class action.

Gugatan ini dilakukan di Pengadilan Federal Sydney, Australia melawan perusahaan minyak yang mengoperasikan kilang minyak Montara yakni PTTEP Australasia (Ashmore Cartier) Pty Ltd (PTTEPAA). Adapun Firma Hukum Maurice Blackburn yang mewakili 13 ribu petani rumput laut tersebut.

“Penggugat utama gugatan ini adalah petani rumpul laut Indonesia, Daniel Sanda mewakili dirinya sendiri dan petani rumput laut lainnya. Mereka mengajukan gugatan terhadap operator kilang minyak lepas pantai Montara,” pernyataan pihak Firma Hukum Maurice Blakcburn, dalam keterangan tertulis yang diterima Metrotvnews.com, Selasa (2/8/2016).

Masalah muncul ketika pada 21 Agustus 2009 lalu, ledakan di kilang minyak lepas pantai Montara menyebabkan bocoran minyak mentah keluar tak terkendali selama lebih dari 70 hari. Gas dan minyak bumi tumpah keluar dari kilang minyak itu ke Laut Timor, sekitar 690 kilometer sebelah barat perairan Australia dan 250 kilometer sebelah tenggara Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Diperkirakan sekitar 300 ribu liter minyak keluar dan mencemari laut, yang bisa memenuhi sekitar 10 kolam renang olimpiade. Kebocoran itu akhirnya bisa diatasi pada 3 November 2009,” lanjut pernyataan tersebut.

Firma hukum Maurice Blakcburn menambahkan, dampak dari tumpahan itu menjadi tragedi bagi ribuan petani rumput laut di Provinsi NTT. Banyak dari mereka tidak bisa lagi menyambung hidupnya sebagai petani rumput laut.

Pengacara yang memimpin gugatan perwakilan, Ben Slade mengatakan, dampak ekonimi menimbulkan kesulitan bagi para petani dan berlanjut hingga saat ini.

“Tidak ada yang bisa dilakukan oleh petani ini untuk melindungi diri dari dampak tumpahan minyak Montara. Melihat kerja keras mereka dan kemungkinan agar anak-anak mereka mendapatkan penghidupan yang layak telah hancur, sangat menyedihkan,” tutur Slade.

“Dampaknya terus melukai masyarakat Nusa Tenggara Timur dan penyelidikan kami menunjukkan bahwa operasi dari kilang minyak itu harus menjawab pertanyaan ini dengan serius. Mereka telah mengambil tindakan yang membahayakan nyawa, lingkungan dan kehidupan ribuan petani rumput laut,” imbuh Slade.

“Jika pihak perusahaan berpikir isu ini akan menghilang karena para petani adalah warga Indonesia atau petani ini tidak mengerti hak hukumnya, maka pihak perusahaan salah besar,” tegas Slade.

Slade menegaskan, para petani ini telah menemukan suaranya dan mereka kini punya sekutu kuat agar suara mereka didengar. Sekutu ini akan berbicara dengan mereka demi meraih keadilan.

Greg Phelps dari firma hukum Ward Keller,-yang menjadi motor dari gugatan ini,- mengatakan bahwa para petani pantas untuk mendapatkan kompensasi.

“Untuk waktu yang sangat lama PTTEPAA dan Pemerintah Australia sengaja menutup telinga untuk menangani kasus ini. Perusahaan minyak bergantung pada kemiskinan dari para korban, berharap masalah ini akan menghilang. Ini waktunya mereka yang menimbulkan masalah polusi bertanggungjawab,” pungkas Phelps.

“Kini gugatan dari Maurice Blackburn berarti bahwa, keadilan dan rasa hormat untuk para petani ini akan terwujud. Mereka kehilangan banyak ketika bocoran Montara memenuhi lahan rumput laut mereka,” kembali Phelps menambahkan.

Kasus ini didukung oleh Harbour Litigation Funding Limited yang beroperasi secara global di Inggris dan Hong Kong.

 

(qq, Solid Gold)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s